Kisah Anak Usia 13 Tahun yang Melawan Kanker

Posted: March 8, 2011 in Uncategorized

 

Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi pada seorang anak bernama Gitta Sassa Wanda Cantika, mantan artis cilik era tahun 1998an. Gadis cilik berusia 13 tahun yang divonis mengalami kanker ganas yang nyaris membuat wajahnya menjadi tampak seperti monster. Dokter memvonis Gitta akan meninggal dalam waktu 5 hari bila tidak melakukan operasi, tetapi orang tuanya tidak tega melihat separuh wajah dari putrinya harus hilang karena operasi. Terlebih Gitta seorang gadis yang masa depannya masih sangat panjang.

Kasus kanker ganas tersebut baru pertama kali terjadi di Indonesia dan menjadi perdebatan karena kanker tersebut biasanya hanya terjadi pada orang dewasa. Tuhan memang maha adil, dengan segala upaya akhirnya Gitta mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah bertahan selama 6 bulan melalui proses kemotrapi yang menyakitkan. Bayangkan, satu kali melakukan kemotrapi, bisa membuat semua helai rambut di kepala rontok.

Ketika semua orang bersuka cita atas kesembuhan Gitta, rupanya kesembuhan itu hanya sebuah kesempatan terakhir. Kanker itu kembali datang dan menjadi lebih ganas. Gitta pun pasrah melewati sisa hidupnya dengan penyakit kanker yang semakin mengganas. Menggerogoti wajah hingga paru parunya. Hebatnya, Gitta tetap bertekad ingin sekolah dengan keadaan seperti ini. Hinaan bahkan cacian dari orang-orang yang melihatnya tidak ia pedulikan, namun yang paling menyedihkan adalah ketika sedang ujian kenaikan kelas dan tangannya tak mampu lagi bergerak hingga hidungnya mimisan, ia masih ingin terus ujian dan lulus naik kelas. Tekadnya begitu hebat sampai Ibu Megawati memberikan penghargaaan khusus padanya sebagai siswa teladan.

Tapi inilah kehidupan. Tuhan punya rencana lain padanya, dan akhirnya Gitta harus pergi setelah 3 tahun mengidap penyakit kanker ganas tersebut dan selama 3 tahun tersebut Gitta tak pernah mengeluh bahkan ia selalu tegar, hingga Tuhan menjemputnya.

Ia bahkan menuliskan surat kecil kepada Tuhan di detik-detik kematiannya.

 

Andai aku bisa kembali

Aku ingin tidak ada tangisan
Andai aku bias kembali

Aku tidak ingin ada lagi hal yang sama terjadi padaku
Terjadi pada siapapun

Tuhan andai aku bias memohon
Jangan ada tangis dan duka lagi di dunia
Tuhan andai aku bias menulis surat padamu

Jangan pisahkan aku dari sahabat dan orang yang aku sayangi

Aku ingin menjadi dewasa seperti burung yang bias terbang ketika ia dewasa
Aku ingin ayah melihat aku ketika aku memiliki lagi keindahan geraian rambut

Tuhan, surat kecilku ini
Adalah permintaan terakhirku andai
Aku bisa kembali

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s