PKO

Posted: March 8, 2011 in Uncategorized

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Performance Rating

Pengukuran waktu pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menentukan lamanya waktu kerja. Untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik  dibutuhkan seorang operator normal (sudah terlatih). Bekerja dalam taraf yang wajar dalam suatu sistem kerja yang terbaik (baku) pada saat itu.

Perancangan sistem kerja menghasilkan beberapa alternatif sehingga harus dipilih alternatif terbaik. Pemilihan alternatif rancangan sistem kerja ini harus berlandaskan 4 kriteria utama, yaitu: kriteria waktu, kriteria fisik, kriteria psikis,dan kriteria sosiologis. Berdasarkan ke-4 kriteria tersebut suatu sistem kerja dipandang terbaik jika memberikan waktu penyelesaian pekerjaan dengan wajar dan normal serta menggunakan tenaga fisik paling ringan, sehingga memberi dampak psikis dan sosiologis paling rendah (Sutalaksana, 1979).

Secara umum, teknik-teknik pengukuran waktu kerja dapat dikelompokkan atas:

1.   Secara langsung

  1. Pengukuran waktu jam berhenti.

b.  Sampling pekerjaan (Work Sampling).

2.  Secara tidak langsung

  1. Data waktu baku.
    1. Data waktu gerakan

Performance Ratting juga merupakan suatu aktifitas untuk menilai dan mengevaluasi kecepatan operator. Tujuan performance rating juga untuk menormalkan waktu kerja yang disebabkan oleh ketidakwajaran. Kelebihan dan kekurangan dari kedua jenis pengukuran waktu kerja, antara lain:

 

 

  1. Pengukuran secara langsung:
    1. Kelebihan: praktis, mencatat waktu saja tanpa harus menggunakan pekerjaan kedalam elemen-elemen pekerjaannya.
    2. Kekurangannya: Membutuhkan waktu lebih lama dan biaya lebih mahal.
      1. Pengukuran secara tidak langsung:
        1. Kelebihan: waktu relatif singkat, tanpa mencatat elemen-elemen gerakan pekerja satu persatu, biaya lebih murah, kemampuan memprediksi suatu penyelesaian pekerjaan.
        2. Kekurangan: belum ada tabel data waktu gerakan yang menyeluruh, tabel yang digunakan adalah untuk orang eropa, dan dibutuhkan ketelitian yang tinggi.

Dalam sistem kerja dengan karakteristik aktivitas kerja yang homogen, terdapat produk nyata yang dapat dinyatakan secara kuantitatif. Pengukuran langsung biasanya menggunakan metoda jam-henti. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengukuran waktu dengan metoda jam-henti, melakukan pemilihan elemen operasi yang mencakup paling tidak 7 prinsip pemilihan elemen operasi.

 

2.2 Langkah-Langkah Sebelum Melakukan Pengukuran

Sebelum melakukan suatu pengukuran, terdapat langkah-langkah yang digunakan. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan (Sutalaksana, 1979).

  1. Penetapan Tujuan Pengukuran.

Tujuannya adalah untuk apa hasil pengukuran digunakan, berapa tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan yang diinginkan dari hasil pengukuran.

  1. Melakukan Penelitian Pendahuluan.

Tujuannya adalah mempelajari kondisi kerja dan cara kerja sehingga diperoleh usaha perbaikan, membakukan secara tertulis sistem kerja yang dianggap baik, dan operator memerlukan pegangan baku.

 

 

  1. Memilih Operator.

Tujuannya adalah agar operator dapat berkemampuan normal dan dapat diajak bekerja sama.

  1. Melatih Operator.

Hal ini dapat ditunjukkan dengan kurva (gambar 2.1) dibawah ini pengembangan penguasaan pekerjaan oleh operator sejak mulai mengenalnya sampai terbiasa.

 

Gambar 2.1 Kurva belajar[HP1]

  1. Mengurai Pekerjaan Atas Elemen Pekerjaan

Tujuannya adalah untuk menjelaskan catatan tentang tata cara kerja yang dibakukan, memungkinkan melakukan penyesuaian bagi setiap elemen. Memudahkan mengamati terjadinya elemen yang tidak baku yang mungkin dilakukan pekerja, dan mengembangkan data waktu baku standar setiap tempat kerja yang bersangkutan.

  1. Menyiapkan Alat-Alat Pengukuran

Alat-alat yang digunakan antara lain: jam henti (stopwatch), lembar pengamatan, alat tulis, papan pengamatan.

 

2.3       Melakukan Pengukuran Waktu

Hal pertama yang dilakukan adalah melakukan pengukuran pendahuluan. Tujuan dari pengukuran pendahuluan adalah untuk mengetahui berapa kali pengukuran harus dilakukan untuk tingkat-tingkat ketelitian dan keyakinan yang diinginkan. Kemudian mencatat semua data yang didapat, yang dilanjutkan dengan proses perhitungan data. Adapun Rumus-rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

  1. Nilai rata-rata

 

  1. Standar deviasi

 

  1. Standar deviasi dari distribusi harga rata-rata

 

  1. Batas Kontrol Atas (BKA) dan Batas Kontrol Bawah (BKB)

 

 

2.4       Tingkat Ketelitian, Tingkat Keyakinan dan Pengujian Keseragaman Data

Tingkat Ketelitian adalah penyimpangan maksimum hasil dari waktu penyelesaian sebenarnya. Tingkat Keyakinan adalah besarnya keyakinan pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian.

Contoh, tingkat ketelitian 10% dan tingkat keyakinan 95% memiliki arti bahwa pengukur membolehkan rata-rata hasil pengukurannya menyimpang sejauh 10% dari rata-rata sebenarnya, dan kemungkinan berhasil mendapatkan hal ini adalah 95%. Pengaruh dari tingkat keyakinan dan ketelitian terhadap jumlah pengukuran adalah semakin tinggi tingkat ketelitian dan semakin besar tingkat keyakinan, semakin banyak pengukuran yang diperlukan.

Pengujian keseragaman data dengan menggunakan batas-batas kontrol (BKA dan BKB) untuk menentukan apakah data yang didapat seragam atau tidak. Data dikatakan seragam yaitu berasal dari sistem sebab yang sama, bila berada diantara kedua batas kontrol. Sedangkan data dikatakan tidak seragam yaitu berasal dari sistem sebab yang berbeda, bila berada diluar batas kontrol (http://dian.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/2418/MASTER+MODU+APK2.doc).

 

2.5       Perhitungan Waktu Baku

Setelah proses pengukuran selesai, langkah selanjutnya adalah mengolah data tersebut sehingga memberikan waktu baku. Cara untuk mendapatkan waktu baku adalah sebagai berikut :

  1. Hitung Waktu siklus rata-rata (Ws)

Waktu siklus adalah Waktu penyelesaian satu satuan produksi mulai dari bahan baku atau mulai diproses di tempat kerja yang bersangkutan. Rumus yang digunakan adalah:

  Diketahui:

N = jumlah pengukuran

Xi = nilai aktual teramati

 

  1. Hitung Waktu normal (Wn)

Waktu normal adalah waktu penyelesaian pekerjaan yang diselesaikan oleh pekerja dalam kondsi wajar dan kemampuan rata-rata. Rumus yang digunakan adalah:

 

 

Diketahui:

P  = faktor penyesuaian, Adapun pembagian faktor penyesuaian, yaitu :

a.  p = 1 / p = 100% berarti bekerja normal

b.  p > 1 / p > 100% berarti bekerja cepat

c.  p < 1 / p < 100% berarti bekerja lambat

 

 

 

  1. Hitung Waktu baku (Wb)

Waktu baku adalah waktu penyelesaian yang dibutuhkan secara wajar oleh pekerja normal untuk menyelesaikan pekerjaannya yang dikerjakan dalam sistem kerja terbaik pada saat itu. Rumus yang digunakan adalah :

 

 

ƪ merupakan kelonggaran atau allowance yang diberikan kepada pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal. Adapun manfaat dari waktu baku, antara lain: Man Power Planning, estimasi biaya-biaya untuk upah kerja, penjadwalan produksi dan penganggaran, indikasi keluaran untuk mampu dihasilkan oleh pekerja, perencanaan sistem pemberian bonus dan intestif bagi pekerja yang berprestasi.

 

2.6       Penyesuaian

Penyesuaian adalah kegiatan evaluasi kecepatan dan performance kerja operator pada saat pengukuran kerja berlangsung merupakan bagian yang paling sulit dan penting dalam pengukuran kerja. Cara-cara menentukan faktor penyesuaian sebagai berikut:

  1. Cara Persentase

Dalam cara ini besar faktor penyesuaian sepenuhnya ditentukan oleh pengukur melalui pengamatannya selama melakukan pengukuran. Jadi sesuai dengan pengukurannya pengamat menentukan harga p yang menurut pendapatnya menghasilkan waktu normal bila harga ini dikalikan dengan waktu siklus.

 

  1. b. Cara Shumard

Shumard memberikan patokan-patokan penilaian melalui kelas-kelas performance kerja dimana setiap kelas mempunyai nilai masing-masing. Disini pengukur diberi patokan untuk menilai performance kerja operator menurut kelas-kelas Superfast, Fast+, Fast, Fast-, Excellent dan seterusnya.

 

 

Tabel 2.1 Penyesuaian menurut cara Shumard

Kelas Performance Kelas Performance
Superfast 100 Good – 65
Fast + 95 Normal 60
Fast 90 Fair + 55
Fast – 85 Fair 50
Excellent 80 Fair – 45
Good 75 Poor 40
Good + 70   [HP2]

 

  1. c. Cara Westinghouse

Westinghause mengerahkan penilaian pada 4 faktor yang dianggap menentukan kewajaran atau ketidakwajaran dalam bekerja yaitu:

a..  Keterampilan adalah sebagai kemampuan mengikuti cara kerja yang ditetapkan.

b. Usaha adalah kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan operator ketika melakukan pekerjaannya.

c.   Kondisi kerja adalah kondisi fisik lingkungan seperti keadaan pencahayaan, temperatur dan kebisingan ruangan.

d.   Konsistensi adalah waktu penyelesaian yang selalu tetap dari satu waktu ke waktu lain.

Nilai-nilai yang diberikan bagi setiap kelas dari faktor dapat dilihat dibawah ini:

 

Tabel 2.2 Penyesuaian Westinghause

Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
  Superfast A1 + 0,15
Keterampilan   A2 + 0,13
  Excelent B1 + 0,11
    B2 + 0,08
  Good C1 + 0,06
    C2 + 0,03
  Average D 0,00
Usaha Fair E1 – 0,05
    E2 – 0,10
       
  Poor F1 – 0,16
    F2 – 0,22
Faktor Kelas Lambang Penyesuaian
  Excessive A1 + 0,13
    A2 + 0,12
  Excellent B1 + 0,10
    B2 + 0,08
  Good C1 + 0,05
Usaha   C2 + 0,02
  Average D 0,00
  Fair E1 – 0,04
    E2 – 0,08
  Poor F1 – 0,12
    F2 – 0,17
  Ideal A + 0,06
  Excellent B + 0,04
Kondisi Kerja Good C + 0,02
  Average D 0,00
  Fair E – 0,03
  Poor F – 0,07
  Perfect A + 0,04
  Excellent B + 0,03
Konsistensi Good C + 0,01
  Average D 0,00
  Fair E – 0,02
  Poor F – 0,04

[HP3]

  1. Cara Objektif

Cara ini memperhatikan 2 faktor yaitu kecepatan kerja dan tingkat kesulitan pekerjaan. Kecepatan kerja adalah kecepatan dalam melakukan pekerjaan dalam pengertian biasa. Untuk kesulitan kerja disediakan tabel yang menunjukkan berbagai kesulitan kerja.

  1. Cara Bedaux

Pada dasarnya cara Bedaux tidak banyak berbeda dengan cara Shumard, hanya berbeda pada nilai-nilai dinyatakan dalam “B”.

  1. Cara Sintesis

Dalam cara waktu penyelesaian setiap elemen gerakan dibandingkan dengan harga-harga yang diperoleh dari tabel-tabel data-data waktu gerakan untuk kemudian dihitung harga rata-ratanya.

 

2.7       Kelonggaran

Kelonggaran adalh waktu yang diberikan kepada pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya disamping waktu normal. Misalnya istirahat, kekamar kecil, meminta bantuan dan sebagainya. Kelonggaran dibagi menjadi 4 bagian yaitu :

a.   Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi.

b.   Kelonggaran untuk menghilangkan fatique.

c.   Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan.

d.   Kelonggaran dalam perhitungan waktu bebas.


[HP1]Sumber gambar

[HP2]Sumber table!!!!

[HP3]Table jangan memotong halaman!!!!!!!

 

 

Sertakan juga sumber table

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s